Senin, 30 September 2013

Hanya Isyarat

0 komentar
"... Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan."

Ku coba semua, segala cara
Kau membelakangiku, Ku nikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untuk kumenghayatimuUntuk mencintaimu
Sesaat dunia jadi tiada 
Hanya diriku yang mengamatimu
Dan dirimu yang jauh di sana 
Ku tak kan bisa lindungi hati
Jangan pernah kau tatapkan wajahmu
Bantulah aku semampumu 
Rasakanlah, isyarat yang sanggup kau rasa tanpa perlu kau sentuh
Rasakanlah, harapan, impian, yang hidup hanya untuk sekejap
Rasakanlah, langit, hujan, detak, hangat nafasku 
Rasakanlah, isyarat yang mampu kau tangkap tanpa perlu kuucap
Rasakanlah, Air, udara, bulan, bintang, angin, malam, ruang, waktu, puisi
Itulah saja cara yang bisa  
Untuk menghayatimuUntuk mencintaimu
 Dee

Jumat, 27 September 2013

Masih Punggung

0 komentar
Jika punggung menjadi satu-satunya cara agar aku tetap mengagumimu, aku suka cara itu. Entahlah, bahkan bagiku punggungmu menyimpan berjuta cerita. kukuh dan teduh. kemarin, aku merasa begitu dekat denganmu, aku melihat warna matamu, coklat tua. tegas seperti pembawaanmu. aku melihat senyumu walau sekilas. hatiku tersenyum, benar-benar tersenyum. ketika kau bisa berada sangat dekat denganku, sungguh aku ingin berteriak senkencang-kencang aku bisa. tapi aku selalu menampakkan ketidakpedulianku. Aku masih mengagumimu, walau hanya sebatas punggungmu.

When I was...

0 komentar
Yakin, sekarang tuh baju uda ga muat. #jaman masih 40an nih berat badan. ngomong-ngomong tentang berat badan, semenjak kuliah bukannya tambah kurus eh malah melar nih badan. makmur kali ye, tapi syukur Alhamdulillah. sekarang mana ada yang berani ngatain Gizi buruk. haha ^^9

Kamis, 19 September 2013

Stadium General (kamis 19 Agustus 2013) @ Interaktif Center

0 komentar
Narasumber Tengah mengenakan jas Bapak Dr. Ahmad Zuber dari Universitas Sebelas Maret
Kuliah Umum dengan tema "Konflik Agraria di Indonesia"
Belajar jadi NOTULEN

Jumat, 23 Agustus 2013

Zuhara

0 komentar
Titik itu bernama Zuhara
Dia muncul kala senja merangkai selendang lembayung
Sendiri dan jauh dari titik-titik yang lain
Mungkin, dia sering dilanda sepi
Tersungkur pada ujung cakrawala
Tetapi, dia harus tetap berdiri
Teguh, kokoh, dan berani
Hingga dia selelu dirindu setiap helaan bayu
Sinarnya selalu dinanti
Dimana anak-anak polos menggantungkan asa setinggi dirinya
Disana, dimana matahari menenggelamkan diri
Zuhara

Yogyakarta, 23 Agustus 2013

Jumat, 26 Juli 2013

Rindu

0 komentar
Sesuatu yang disebut rindu, adalah hal yang hanya bisa ku nikmati sendiri, bersama hatiku. Sesuatu itu bisa saja menjadi belati tajam, merobek dan melukai, namun entah mengapa banyak orang yang menikmatinya. Mungkin, ketika aku berkata tidak padamu, itu tak menjadi masalah untukmu. Karena apalah arti diriku ini, aku tak ubahnya debu, sedangkan dirimu air. Debu tak akan pernah bisa bersama air, kau tahu? dia akan menghilang, sekalipun kau berusaha mempertahankannya. Karena semakin erat air menggenggam debu, secepat itu debu lenyap. Aku tahu, yang ada di sisimu saat ini lebih dari debu, tanah mungkin. Yang bisa kau siram dan tak akan lenyap, semakin kau siram tanah itu akan semakin subur dan menumbuhkan banyak hal.

Sabtu, 13 Juli 2013

Udah, putusin aja!!

0 komentar
               Cinta itu memikirkan yang dicintai, bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti. Mari kita berbicara tentang masa depan, agar hari esok yang dijelang bukan suatu kesengsaraan. Ada hal yang jelas yang harus dipersiapkan. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan. 

              Bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah. Bila engkau perempuan, seharusnya tau bagaimana bertingkah. Kita bicara masa depan karena ini tidak semudah yang diperkirakan oleh para pemuda-pemuda yang lalai, juga tidak sesulit yang diceritakan perempuan-perempuan yang bercerai. Setiap Muslimah tentu saja menginginkan lelaki yang bertanggung jawab, yang menghargai kelebihan-kebaikannya, dan yang memaafkan kealpaan-kekurangannya. Muslimah mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti, baik hati, tinggi iman, dan lurus amal?
Muslimah selalu menanti lelaki elok akhlak padan rasa, yang memiliki kelembutan dengan anaknya, dengan istrinya dia mesra. Muslimah mana yang tidak mendambakan lelaki yang bisa mengawalnya jauh dari neraka dan membimbingnya menuju surga Allah?

          Dan sebaliknya ...
          Lelaki mana yang tidak suka dengan wanita cerdik cendekia lagi berparas menawan, yang lisannya seanggun geraknya? Lelaki yang baik pasti menyukai wanita lemah lembut dan santun, pintar membahagiakan suami dengan masakan dan perhatian, tidak tamak pada harta dan selalu menjaga kehormatan. Lelaki mana yang tidak memimpikan wanita yang mendukungnya dalam kebaikan dan mengeluarkan kebaikannya, dirindukan bila ditinggal, dan menyenangkan bila berjumpa?

          Namun sialnya, kita hidup di zaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini untuk memperhatikan fisik bukan isi, memperhatikan badan bukan iman. Kapitalisme menjadikan kebahagiaan materialistis sebagai tujuan tertinggi. Hingga membuat lelaki sejati dalam pandangan Islam menjadi barang yang sulit. Hedonisme, anak kandung kapitalisme, sukses menjadikan lelaki yang hanya peduli nikmat sampai pada kulit.

            Wajar bila kita melihat di mana-mana lelaki jadi miskin tanggung jawab dan fakir komitmen. Bagi lelaki yang tidak lulus ujian tanggung jawab dan komitmen, merekalah yang akhirnya masuk dalam jurusan pacaran. Cinta disempitkan dalam arti pacaran, yang terbatas pada rayuan palsu dan gandengan tangan. Padahal, pendamping yang shaleh tiada pernah didapatkan dari proses pacaran, karena keshalehan dan kebathilan jelas bertentangan. Haq dan bathil tidak akan pernah bertemu, bagai fatamorgana yang dijanjikan kebahagiaan semu.

            Bagaimana bisa lelaki yang sudah memahami pacaran itu perbuatan yang dilarang oleh Allah, memaksa dengan berbagai alasan agar engkau selalu berbagi dosa dengannya melawan Allah, lalu yang seperti ini bisa jadi panduan setelah menikah?

Coba Pikirkan Baik-baik!
Sebelum menikah saja sudah berani berbuat maksiat. Lalu, apa yang menghalanginya berbuat maksiat setelah menikah?
  • Jika sebelum halal saja sudah berani katakan sayang. Jangan heran bila setelah menikah ia berani katakan itu kepada wanita lain, toh sama-sama bermaksiat kepada Allah.
  • Jika sebelum akad saja ia sudah melabuhkan tangannya pada tubuhmu. Jangan heran bila setelah menikah ia mampu lakukan itu pada wanita lain, toh sama-sama dosa kepada Allah.
  • Yang tiada takut dosa saat sebelum menikah, jangan harap ia takut dosa setelah menikah..

             Coba Sekali lagi Pikirkan Baik-baik!
            Apa yang menghalangi lelaki atau wanita untuk berselingkuh dikemudian hari? Bila pengawasan pasangan yang menghalanginya berselingkuh, mudah sekali mencari jalan untuk tetap berselingkuh. Bila nilai-nilai adat serta hati nurani yang menghalanginya berselingkuh, nilai-nilai adat serta hati nurani bisa berubah dengan suara terbanyak. Satu hal yang membuat lelaki atau wanita mustahil berselingkuh, yakni pengawasan Allah SWT. Allah selalu ada dan melihat semua perbuatan hamba-Nya. Kesadaran bahwa Allah selalu bersamanya dan dia pun selalu bersama Allah. Kesadaran bahwa Allah akan menghisab setiap amal yang dia buat dan dia tinggalkan. Kesadaran bahwa dia terhubung dengan Allah.

            Sayangnya ini tiada kita temukan pada lelaki dan wanita yang berpacaran. Lelaki yang dengan berpacaran dia ridha laksana fatamorgana, saat berbuat dia berkhianat, dan saat berjanji dia ingkar. Lelaki yang tak berani menikahi ibarat calo kereta api, tak peduli urusan engkau sakit, yang penting dia sudah sikat.

Lelaki berpacarang jelas miskin tanggung jawab, karena pacaran memang tidak mensyaratkan tanggung jawab. saat pacaran, dia membarikan seribu alasan untuk merenggut kehormatan dan engkau akan melihat dia sulit diajak bicara saat sudah engkau berikan apa yang dia inginkan. Wajar saja bila saat sudah serumah, lelaki semacam ini lisannya penuh dengan dusta, karena saat pacaran dia sudah melatihnya. Tak heran, sungguh tak heran, saat pacaran ia berani khianati Tuhan, maka khianati pasangan sangat mudah baginya.
 

Alamanda Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template